Sebagai pemilik blog dan website kita perlu melakukan pengecekan backlink atau tautan balik menggunakan berbagai tools SEO.
Tidak sedikit pemilik website yang merasa panik karena menemukan banyak tautan dari website asing, domain berkualitas rendah, atau bahkan situs yang terlihat seperti spam.
Akibatnya, banyak yang langsung berpikir untuk menggunakan Google Disavow Tool agar backlink tersebut tidak memengaruhi peringkat website.
Namun, apakah cara ini masih relevan di tahun 2026?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Google sendiri telah menjelaskan bahwa sebagian besar website tidak perlu menggunakan Disavow Tool.
Bahkan, jika digunakan tanpa memahami fungsinya, alat ini justru bisa merugikan performa SEO website Anda.
Lalu, apa sebenarnya Disavow Tool, bagaimana cara kerjanya, dan kapan sebaiknya digunakan? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Disavow Backlink?
Disavow Backlink adalah fitur yang disediakan Google untuk memberi tahu mesin pencari agar mengabaikan tautan tertentu yang mengarah ke website Anda.
Fitur ini menggunakan sebuah file berformat .txt yang berisi daftar URL atau domain yang ingin diabaikan oleh Google ketika mengevaluasi profil backlink website.
Sederhananya, Disavow Tool seperti memberi tahu Google:
“Saya tidak ingin backlink dari website ini diperhitungkan.”
Perlu dipahami bahwa Disavow Tool tidak menghapus backlink dari internet.
Backlink tersebut tetap ada, tetapi Google akan berusaha mengabaikannya saat memproses sinyal peringkat website Anda.
Mengapa Disavow Tool Dulu Sangat Penting?
Beberapa tahun lalu, backlink memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap peringkat website.
Sayangnya, banyak orang memanfaatkan hal ini dengan membuat ribuan backlink berkualitas rendah menggunakan berbagai teknik manipulatif.
Salah satu trik backlink yang dipakai adalah membuat Private Blog Network (PBN)
Pada tahun 2012, Google meluncurkan pembaruan algoritma Penguin untuk mengurangi pengaruh backlink yang tidak alami.
Bersamaan dengan itu, Google juga memperkenalkan Disavow Tool agar pemilik website dapat melaporkan backlink yang dianggap merugikan.
Saat itu, penggunaan Disavow Tool memang cukup penting, terutama bagi website yang pernah membeli backlink atau menggunakan teknik link building yang melanggar pedoman Google.
Bagaimana Cara Menggunakan Disavow Tool?
Secara teknis, penggunaan Disavow Tool cukup sederhana.
Pertama, Anda membuat file teks (.txt) yang berisi daftar domain atau URL yang ingin diabaikan. Anda bisa gunakan aplikasi notepad untuk membuat file ini.
# Two pages to disavow
http://domainexample.com/stuff/comments.html
http://domainexample.com/stuff/paid-links.html
# One domain to disavow
domain:domainseo.com
Akses Google Disavow melalui tautan ini: https://search.google.com/search-console/disavow-links
Setelah itu, pilih properti website yang sudah terdaftar di akun Google Search Console, lalu unggal file yang sudah dibuat tadi.

Google kemudian akan memproses daftar tersebut ketika melakukan recrawl atau perayapan ulang terhadap halaman yang bersangkutan.
Namun, proses ini tidak berlangsung secara instan. Google membutuhkan waktu hingga proses crawling berikutnya sebelum perubahan mulai diterapkan.
Setelah itu, file diunggah melalui halaman Google Disavow Tool yang terhubung dengan properti website di Google Search Console.
Google kemudian akan memproses daftar tersebut ketika melakukan recrawl atau perayapan ulang terhadap halaman yang bersangkutan.
Namun, proses ini tidak berlangsung secara instan. Google membutuhkan waktu hingga proses crawling berikutnya sebelum perubahan mulai diterapkan.
Apakah Semua Backlink Spam Harus Didisavow?
Jawabannya adalah tidak.
Ini merupakan salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan oleh pemilik website.
Tidak semua backlink dari website berkualitas rendah akan memberikan dampak buruk terhadap SEO. Faktanya, Google kini sudah jauh lebih baik dalam mengenali backlink yang bersifat spam atau manipulatif.
Dalam banyak kasus, Google hanya akan mengabaikan backlink tersebut, bukan memberikan penalti kepada website tujuan.
Artinya, jika Anda menemukan ratusan bahkan ribuan backlink aneh dari website luar negeri, belum tentu Anda harus terburu-buru membuat file Disavow.
Masih Perlukah Disavow Tool di Tahun 2026?
Untuk sebagian besar website, jawabannya adalah tidak perlu.
Google telah berkali-kali menjelaskan bahwa algoritma mereka saat ini mampu mengenali dan mengabaikan sebagian besar backlink spam secara otomatis.
Baca juga: Apa itu Spam Score Domain? Ketahui Cara Mengetahui dan Mengatasinya
Dengan kata lain, Anda tidak perlu membersihkan setiap backlink yang terlihat mencurigakan.
Hal ini berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu ketika backlink spam lebih mudah memengaruhi hasil pencarian.
Saat ini, Google lebih fokus menilai kualitas keseluruhan website daripada sekadar jumlah backlink yang masuk.
Oleh karena itu, jika website Anda tidak pernah melakukan praktik manipulasi backlink, kemungkinan besar Anda tidak memerlukan Disavow Tool.
Kapan Disavow Tool Masih Dibutuhkan?
Meskipun sudah jarang digunakan, bukan berarti Disavow Tool benar-benar tidak berguna.
Ada beberapa kondisi di mana alat ini masih disarankan, misalnya:
- Website pernah membeli backlink dalam jumlah besar.
- Pernah menggunakan jasa SEO yang membuat ribuan backlink secara otomatis.
- Mendapat Manual Action dari Google karena unnatural links atau tautan yang tidak wajar.
- Memiliki riwayat praktik SEO yang melanggar pedoman Google.
Dalam kondisi tersebut, Disavow Tool dapat membantu Google memahami bahwa Anda tidak lagi ingin backlink tersebut diperhitungkan.
Namun, jika backlink spam muncul secara alami akibat aktivitas bot, website scraper, atau situs yang menyalin konten Anda, biasanya tidak perlu dilakukan Disavow.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menggunakan Disavow
Banyak pemilik website menggunakan Disavow Tool tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.
Beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi antara lain:
- Menghapus semua backlink dari domain dengan otoritas rendah.
- Menganggap semua backlink luar negeri adalah spam.
- Mendisavow backlink yang sebenarnya berkualitas.
- Menggunakan daftar backlink dari tools SEO tanpa verifikasi.
- Terlalu sering mengunggah file Disavow baru.
Kesalahan-kesalahan tersebut justru dapat membuat website kehilangan backlink yang sebenarnya masih memberikan nilai positif.
Karena itu, Disavow Tool sebaiknya digunakan sebagai pilihan terakhir, bukan langkah pertama ketika menemukan backlink yang terlihat mencurigakan.
Fokus pada Backlink Berkualitas Lebih Penting
Daripada menghabiskan waktu membersihkan backlink yang belum tentu bermasalah, akan lebih baik jika Anda fokus membangun profil backlink yang sehat.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Membuat konten yang bermanfaat dan mudah dibagikan.
- Mendapatkan backlink dari website yang relevan dengan niche Anda.
- Membangun kerja sama dengan website terpercaya.
- Memperkuat internal linking atau tautan internal.
- Meningkatkan kualitas pengalaman pengguna di website.
Strategi seperti ini jauh lebih memberikan dampak positif terhadap SEO dibanding terus-menerus khawatir dengan backlink spam yang kemungkinan besar sudah diabaikan oleh Google.
Kesimpulan
Disavow Tool pernah menjadi salah satu alat penting dalam dunia SEO, terutama ketika praktik manipulasi backlink masih sangat marak.
Namun, seiring berkembangnya algoritma Google, perannya kini tidak lagi sebesar dulu.
Untuk sebagian besar website, Disavow Tool tidak perlu digunakan secara rutin karena Google sudah mampu mengenali dan mengabaikan sebagian besar backlink spam secara otomatis.
Menggunakannya tanpa alasan yang jelas bahkan dapat menyebabkan backlink berkualitas ikut terabaikan.
Jika website Anda tidak pernah membeli backlink, tidak terkena Manual Action, dan tidak memiliki riwayat praktik SEO yang melanggar pedoman Google, Anda tidak perlu panik ketika menemukan backlink yang terlihat mencurigakan.
Sebaliknya, fokuslah membangun konten berkualitas dan memperoleh backlink yang relevan, karena strategi inilah yang tetap menjadi fondasi SEO yang kuat hingga tahun 2026.